sains adalah hasil dari proses rasa ingin tahu manusia. menurut seorang dosen di fakultas sains dan teknologi UIN Suka yaitu Dr Muhammad Ja'far Luthfi,mengatakan bahwa sains didasarkan pada tiga alasan, yaitu rasa ingin tahu, iseng-iseng dan seni. seorang sains sejati lebih terlihat seperti orang "gila", bukan malah seperti orang yang rajin atau pandai. karena sains disasarkan kepada rasa ingin tahu. sains atau rasa ingin tahu telah ada dan melekat pada manusia sejak kanak-kanak. hal tersebut terlihat pada kebanyakan anak yang cenderung banyak bertanya.
jiwa sains adalah peralatan untuk membongkar fenomena yang terjadi di alam, sehingga sains itu hanya untuk mengetahui. sementara daya untuk mencipta sesuatu masuk kedalam teknologi. tindak lanjut setelah terbongkarnya salah satu fenomena oleh sains, atau merekayasa bongkaran yang telah dilakukan oleh sains adalah teknologi. sehingga sains itu berbeda dengan teknologi.
dalam analoginya yaitu pada palu, sains hanya mengetahui bentuk dan keberadaan palu, sementara fungsi palu untuk menancapkan paku atau yang lainnya masuk kedalam teknologi. contoh kasus pada kasus Einsteins. Einsteins hanya membongkar teori relativitas, sedangkan yang menggunakan teori relativitas untuk kepentingan perang bukanlah Einsteins. jadi Einsteins sebagai pelaku sains, dan pelaku teknologi disini mungkin pihak pemerintah Amerika dalam pembuatan bom.
Isac Newton tidak pernah memikirkan manfaat dari kerja iseng-iseng atau penemuannya tentang hukum gravitasi. namun sampai hari ini hukum gravitasi masih dibahas di sekolah-sekolah...